Industri tailoring di Indonesia menghadapi tantangan besar saat tren fesyen beralih ke gaya kasual dan oversized yang mulai populer di awal 2010-an. Dalam periode ini, jas formal dianggap terlalu kaku dan ketinggalan zaman. Namun, Wong Hang, salah satu pelopor dalam industri ini, tetap berkomitmen untuk mempertahankan identitasnya melalui desain jas klasik bergaya Eropa dan Inggris yang lebih timeless.
Menurut Samuel, seorang perwakilan dari Wong Hang, tren fesyen dapat berubah dengan cepat, tetapi pakaian yang dirancang dengan potongan presisi akan selalu memiliki tempat di hati para penggemarnya. Karena itu, Wong Hang tidak hanya menawarkan pakaian berkualitas, tetapi juga menekankan pentingnya material yang baik dan teknik jahitan yang handal, sehingga setiap jas dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama dan tetap dapat disesuaikan seiring perubahan bentuk tubuh pelanggan.
Komitmen ini diwujudkan melalui layanan garansi seumur hidup untuk setiap jas yang dibuat, di mana pelanggan dapat melakukan penyesuaian ukuran secara gratis kapan saja. Baik saat berat badan bertambah atau berkurang, penyesuaian dapat dilakukan sampai delapan sentimeter tanpa merusak bentuk asli pakaian. “Layanan ini memerlukan kualitas bahan dan teknik jahitan yang sangat presisi,” jelas Samuel.
Pendekatan yang personal ini membuat Wong Hang tetap menjadi pilihan bagi berbagai kalangan, mulai dari profesional hingga figur publik. Di sisi lain, Wong Hang juga beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk lini bisnis pakaian jadi mereka, Wong Hang Bersaudara (WHB). Teknologi ini memungkinkan pemindaian ukuran tubuh pelanggan secara otomatis yang terintegrasi langsung ke dalam sistem pembuatan pola.
Meskipun demikian, Samuel menegaskan bahwa sentuhan personal tetap menjadi inti dari layanan bespoke yang ditawarkan oleh Wong Hang. Ia mencatat bahwa suit pernah dianggap hanya cocok untuk acara formal saja, namun ia berupaya untuk menunjukkan bahwa jas juga dapat dikenakan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, berpakaian rapi adalah bentuk penghormatan kepada orang lain.
“Saya selalu mengenakan jas ke mana pun saya pergi, termasuk saat rapat,” ungkapnya. Di masa lalu, mayoritas model suit yang populer di Indonesia bergaya Amerika dengan siluet longgar, sementara Wong Hang tetap setia pada pendekatan tailoring Eropa yang lebih presisi. Meskipun awalnya dianggap berbeda, lambat laun pendekatan ini diterima dan mulai memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suit dan tailoring bespoke.
Wong Hang juga terus mengikuti perkembangan material kain premium dari seluruh dunia. Samuel menyebutkan bahwa Wong Hang kini menjadi tailor resmi untuk beberapa merek kain internasional seperti Loro Piana, Ermenegildo Zegna, dan Cerruti. Ia menambahkan bahwa inovasi dalam teknologi kain menjadi salah satu faktor pembeda utama antara suit tailor dan pakaian produksi massal.
“Contohnya, Cerruti pernah meluncurkan suit yang waterproof. Kain-kain inovatif seperti ini adalah alasan mengapa konsumen memilih tailor dibandingkan membeli di mal,” pungkas Samuel.
