Jakarta, CNN Indonesia — Sekretaris Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, menyatakan kesiapannya untuk bertemu dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK). Pernyataan ini muncul setelah Grace dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sejumlah organisasi masyarakat (ormas) terkait unggahannya mengenai video ceramah JK di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam konferensi pers yang berlangsung di Jakarta Pusat pada Senin (11/5), Grace menegaskan bahwa ia tidak memiliki masalah pribadi dengan JK. “Sejauh ini belum ada komunikasi, tapi kalau beliau terbuka ya ayo, mari. Saya enggak pernah ada masalah sama Pak JK. Kebetulan juga sudah lama, agak lama enggak ketemu beliau,” ujarnya.
Grace mengklaim bahwa pernyataannya mengenai JK di media sosial bersifat normal dan tidak ada niat untuk menimbulkan kontroversi. Dia menyatakan siap untuk memberikan penjelasan jika diminta oleh JK mengenai pernyataannya. “Saya juga tidak pernah ada masalah apapun dengan Pak JK sebagai pribadi. Pernyataan saya pun juga normal-normal saja. Oleh karena itu, saya siap jika mau dimintai penjelasan,” tambahnya.
Grace juga menegaskan keyakinannya bahwa tindakan mengunggah video tersebut tidak melanggar hukum. Dia menjelaskan bahwa ceramah JK di UGM telah memicu pro dan kontra di masyarakat. “Di dalam video saya tersebut, saya tidak mengupload atau me-repost videonya Pak JK. Saya hanya merespons video Pak JK, di mana saya melihat sudah banyak kontroversi yang beredar di masyarakat,” jelas Grace.
Sebelumnya, Grace dilaporkan ke polisi bersamaan dengan rekannya, Ade Armando, serta pegiat media sosial Permadi Arya. Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/185/V/2026/SPKT/Bareskrim Polri pada 4 Mei 2026, oleh 40 ormas Islam yang tergabung dalam Aliansi untuk Kerukunan Umat Beragama.
Perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Syarikat Islam/SEMMI, Gurun Arisastra, menyatakan bahwa pelaporan ini berkaitan dengan narasi yang disertakan dalam unggahan masing-masing mengenai potongan video ceramah JK di Masjid UGM, di mana JK menjelaskan tentang konflik di Poso dan Ambon. “LBH Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia, LBH Syarikat Islam, serta LBH Muhammadiyah dan sejumlah organisasi lainnya telah melaporkan tiga figur: Ade Armando, Permadi Arya, dan Grace Natalie,” kata Gurun saat memberikan keterangan kepada wartawan di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.
